Monday, April 23, 2007

Pandangan terhadap suatu media

Ketika saya menulis ini, saya baru saja membaca artikel di media mengenai seorang mahasiswa asal Korea Cho Seung-Hui yang melakukan suatu aksi yang membuat dunia menjadi kaget dan prihatin. Dengan membawa senjata dia membunuh 33 orang (termasuk dirinya). Sungguh prihatin dan menyedihkan.
Tetapi ada suatu hal yang menarik yang dapat saya simpulkan setelah membaca banyak pemberitaan mengenai dirinya baik di media massa. Apa yang terjadi setelah itu? saya melihat adanya pemberitaan yang terlalu berlebihan yang menyebabkan seakan-akan pelaku menjadi seorang pahlawan. semua kehidupannya di bahas, kemudian pesan-pesannya dimuat... Sehingga dia menjadi begitu terkenal.
Suatu ironi dari peranan media massa. Dimana seharusnya hal ini dihujat dan tidak boleh ditiru, malah dengan adanya suatu pemberitaan yang menghebohkan bukan tidak mungkin menjadi suatu inspirasi bagi cho yang kedua. (sesuatu yang sangat masuk di akal).
Kita flash back ke kejadian yang sebelumnya yaitu peristiwa yang menggegerkan dunia pada tanggal 11 september. di mana setelah itu al qaedah menjadi sangat terkenal dan semua orang jadi tahu siapa itu usama bin Laden. Kemudian berlanjut dengan adanya peristiwa bom bali. dan ternyata ironisnya sedikit banyak pelakunya terilhami oleh Usama yang mereka baca dari media massa.
Sungguh menurut saya sesuatu yang menjadi ironi bagi adanya suatu media. Di mana media cenderung membesarkan pelaku suatu peristiwa. Contoh sederhana misalnya adanya seperti Cho kali ini. Di mana media langsung mengupas habis kehidupan pribadinya, pandangan hidupnya, dan kesehariannya, menyebarluaskan pesan kematiannya, seakan-akan diperlakukan sebagai seorang pahlawan. Bukan tidak mungkin ada orang yang depresi dan takut menjadi pemberani untuk melakukan hal gila seperti yang dilakukan Cho. Bukan tidak mungkin Cho melakukan hal seperti ini juga berdasarkan ilham dari tokoh yang telah melakukan hal serupa dan diberitakan secara hebat di media.
Saya sendiri bukanlah orang yang expert di bidang media, saya hanyalah seorang mahasiswa yang merasa tergelitik untuk memberikan pendapat saya mengenai peranan media yang sekarang cenderung menurut saya berlebihan dalam memuat sesuatu. Tidak bisa disalahkan... karena mereka juga mengejar untung.
Tapi saya tetaplah pada pendapat saya, bahwa pelaku kejahatan adalah pelaku kejahatan. apapun alasan yang menyebabkan hal itu tidak bisa dijadikan alasan untuk pembenarannya. Dan juga tidak perlu untuk memperlakukan mereka seakan-akan mereka adalah pemberani yang berani tampil beda dengan melakukan kejahatan.

No comments: